Fenomena “Resign Setelah THR”: Strategi Karier atau Sekadar Ikut Tren?
By Suksesindo | 03 Mar 2026

Setiap tahun menjelang Hari Raya, satu fenomena yang cukup sering terjadi di dunia kerja adalah meningkatnya jumlah karyawan yang memutuskan untuk mengundurkan diri setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memulai perjalanan karier baru. Namun bagi yang lain, keputusan tersebut kadang hanya mengikuti tren tanpa perencanaan yang matang.
Lalu sebenarnya, apakah resign setelah THR merupakan keputusan yang tepat? Atau justru berisiko bagi karier seseorang?


Mengapa Banyak Orang Resign Setelah THR?
Ada beberapa alasan yang sering menjadi latar belakang keputusan ini.
1. Momentum Keuangan yang Lebih Aman
THR sering dianggap sebagai “bantalan finansial” sementara. Dengan adanya dana tambahan, seseorang merasa lebih siap menghadapi masa transisi ketika harus mencari pekerjaan baru.
Hal ini membuat banyak orang merasa lebih percaya diri untuk mengambil keputusan besar terkait kariernya.


2. Sudah Mendapat Tawaran Kerja Baru
Tidak sedikit karyawan yang sebenarnya sudah memiliki rencana pindah kerja jauh sebelum THR dibayarkan. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat agar tetap mendapatkan hak yang sudah menjadi kewajibannya dari perusahaan.
Dalam kondisi seperti ini, resign setelah THR memang sering dianggap sebagai langkah yang wajar.


3. Keinginan Mencari Lingkungan Kerja yang Lebih Baik
Faktor lain yang cukup sering muncul adalah keinginan untuk mendapatkan lingkungan kerja yang lebih sehat, peluang berkembang yang lebih jelas, atau kompensasi yang lebih sesuai.
Bagi sebagian orang, momen setelah THR terasa seperti waktu yang tepat untuk memulai babak baru dalam karier.


4. Mengikuti Tren Tanpa Perencanaan
Namun tidak semua keputusan resign dilakukan dengan perhitungan matang. Ada juga yang terpengaruh oleh tren atau cerita dari rekan kerja yang lebih dulu pindah pekerjaan.
Padahal, setiap kondisi karier seseorang berbeda.


Risiko Resign Tanpa Persiapan
Keputusan untuk meninggalkan pekerjaan seharusnya tidak hanya dipengaruhi oleh momen tertentu saja. Tanpa perencanaan yang matang, resign bisa menimbulkan beberapa risiko.
Misalnya seperti masa pencarian kerja yang lebih lama dari perkiraan, kondisi finansial yang tidak stabil, atau bahkan pekerjaan baru yang ternyata tidak sesuai dengan harapan.
Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan besar terkait karier.


Kapan Waktu yang Tepat untuk Resign?
Tidak ada waktu yang benar-benar “sempurna” untuk resign. Namun ada beberapa tanda bahwa seseorang mungkin sudah siap untuk melangkah ke tahap berikutnya dalam kariernya.
Misalnya ketika sudah memiliki rencana karier yang jelas, mendapatkan peluang kerja yang lebih baik, atau merasa bahwa perkembangan di tempat kerja saat ini sudah mencapai titik stagnan.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan yang rasional, bukan sekadar mengikuti tren.


Kesimpulan
Fenomena resign setelah THR memang sering terjadi dan bisa dipahami dari berbagai sudut pandang. Bagi sebagian orang, ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan karier. Namun bagi yang lain, keputusan tersebut bisa menjadi langkah yang berisiko jika dilakukan tanpa perencanaan yang matang.
Pada akhirnya, setiap keputusan karier sebaiknya didasarkan pada tujuan jangka panjang dan kondisi pribadi masing-masing.
Karena dalam dunia kerja, langkah yang paling tepat bukanlah yang paling cepat diikuti banyak orang, tetapi yang paling sesuai dengan arah karier kita sendiri.

Temukan peluang karir Anda dengan kami!
Jelajahi ribuan lowongan kerja yang cocok dengan profesimu.
CARI LOWONGAN