PT Suksesindo melarang keras berbagai macam bentuk gratifikasi dalam proses rekrutmen!

Quiet Quitting: Tren Baru di Dunia Kerja atau Sekadar Salah Persepsi?

By Suksesindo | 03 Feb 2026

Quit Quitting: Tren Baru di Dunia Kerja atau Sekadar Salah Persepsi?

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting semakin sering terdengar di dunia kerja. Banyak yang menganggap fenomena ini sebagai bentuk “resign diam-diam”, padahal sebenarnya bukan itu maknanya. Lalu, apa sebenarnya quiet quitting? Apakah ini tren negatif, atau justru bentuk kesadaran baru karyawan terhadap batas profesionalnya? 

Apa Itu Quit Quitting?

Quiet quitting bukan berarti seseorang benar-benar keluar dari pekerjaannya. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika karyawan tetap bekerja sesuai job desk dan tanggung jawabnya, tetapi tidak lagi memberikan usaha ekstra di luar kewajiban yang ditetapkan.

Mereka datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai deskripsi pekerjaan, namun tidak lagi mengambil pekerjaan tambahan, lembur berlebihan, atau terlibat dalam hal-hal di luar perannya.

Secara sederhana: bekerja sesuai kontrak, tidak lebih, tidak kurang.

Mengapa Fenomena Ini Muncul?

Ada beberapa faktor yang memicu munculnya quiet quitting:

1. Kelelahan dan Burnout

Tekanan kerja yang tinggi tanpa keseimbangan dapat membuat karyawan kehilangan motivasi. Ketika usaha ekstra tidak diimbangi dengan apresiasi atau kompensasi yang layak, semangat kerja bisa menurun.

2. Kurangnya Penghargaan

Karyawan yang merasa kontribusinya tidak dihargai cenderung mengurangi keterlibatan emosionalnya dalam pekerjaan.

3. Perubahan Pola Pikir Generasi

Generasi kerja saat ini semakin sadar pentingnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka tidak ingin hidupnya hanya berputar pada pekerjaan.

4. Minimnya Peluang Berkembang

Ketika jenjang karier terasa stagnan, karyawan bisa kehilangan dorongan untuk memberikan lebih dari yang diminta.

Apakah Quiet Quitting Berbahaya?

Jawabannya tergantung sudut pandang.

Dari sisi perusahaan, quiet quitting bisa berdampak pada menurunnya inovasi, kolaborasi, dan semangat tim. Lingkungan kerja yang sebelumnya dinamis bisa menjadi terasa datar.

Namun dari sisi karyawan, quiet quitting bisa menjadi bentuk perlindungan diri. Bekerja sesuai batas profesional bukanlah kesalahan. Justru, ini bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam sistem kerja.

Salah Persepsi yang Sering Terjadi

Banyak yang langsung mengaitkan quiet quitting dengan kemalasan. Padahal, seseorang yang melakukan quiet quitting tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Yang berubah bukan kualitas kerja, melainkan tingkat keterlibatan emosional dan kesediaan untuk memberikan usaha tambahan.

Ini bukan soal tidak peduli, melainkan soal batas.

Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

Fenomena ini bisa menjadi bahan evaluasi. Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan antara lain:

  • Meningkatkan komunikasi antara atasan dan karyawan
  • Memberikan apresiasi atas kontribusi tim
  • Menyediakan jalur pengembangan karier yang jelas
  • Menciptakan budaya kerja yang sehat dan realistis

Lingkungan kerja yang suportif akan mendorong karyawan untuk terlibat secara alami, tanpa paksaan.

Lalu, Bagaimana Sikap Profesional yang Ideal?

Bagi karyawan, penting untuk tetap menjaga integritas dan tanggung jawab. Jika merasa beban kerja tidak seimbang atau kurang dihargai, komunikasi terbuka dengan atasan adalah langkah yang lebih konstruktif dibandingkan menarik diri secara diam-diam.

Sementara itu, perusahaan juga perlu memahami bahwa produktivitas jangka panjang tidak hanya bergantung pada kerja keras, tetapi juga pada kesejahteraan tim.

Cari Lowongan

Temukan peluang karir Anda dengan kami!

Jelajahi ribuan lowongan kerja yang cocok dengan profesimu.

CARI LOWONGAN

Kesimpulan

Quiet quitting bukan sekadar tren media sosial. Ini adalah refleksi dari perubahan cara pandang terhadap pekerjaan dan keseimbangan hidup. Alih-alih langsung menilai negatif, fenomena ini bisa menjadi momentum untuk menciptakan budaya kerja yang lebih sehat, transparan, dan saling menghargai.

Karena pada akhirnya, dunia kerja yang baik bukan hanya tentang target dan angka, tetapi juga tentang manusia yang ada di dalamnya.